Cerita Ferry Shofiana, Penyuluh Agama yang Mendidik Anak-Anak Pemulung di Kolong Jalan Tol
Jakarta, NU Online – Ferry Shofiana (50), penyuluh agama di KUA Setiabudi, Jakarta Selatan, setiap hari hadir mendidik dan mendampingi anak-anak di Rumah Penyuluhan Kreatif (RPK) yang terletak di bawah kolong Jalan Tol Andara, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Di tempat sederhana itu, ia mengajar dan menemani anak-anak dari keluarga pemulung untuk belajar huruf, angka, serta doa.
Dari niat sederhana tersebut, lahirlah RPK sebagai ruang belajar, bermain, dan bertumbuh bagi anak-anak kampung pemulung. Dari lokasi inilah Ferry menyalakan harapan bagi mereka yang sering terlupakan. Baginya, kegiatan mendampingi warga bukan sekadar program sosial, melainkan panggilan hati. “Saya hanya ingin memberikan sesuatu, sekecil apa pun, selama masih ada kesempatan,” ujarnya kepada NU Online.
Kisah Ferry bermula ketika ia menjadi relawan di sebuah komunitas sosial yang melakukan pembinaan di lapak pemulung sekitar Jakarta Selatan. Pengalaman itu membuka matanya terhadap berbagai persoalan sosial di balik tumpukan rongsok: anak-anak putus sekolah, minimnya pemahaman agama, serta kebiasaan mengemis yang diwariskan turun-temurun. “Kalau terus ikut kegiatan orang lain, artinya saya hanya mengikuti visi mereka. Saya ingin mencari tempat dan mengelolanya sendiri,” kenangnya.
Bersama beberapa teman, Ferry kemudian mencari lokasi hingga menemukan sebuah bedeng bekas di kolong Tol Andara. Tempat itu sangat sederhana. Pada awalnya, hampir tidak ada anak-anak yang datang. Ferry tetap bertahan, mendatangi satu per satu rumah warga untuk mengajak anak-anak belajar. Seiring waktu, jumlah peserta bertambah, dan tempat itu disulap menjadi kelas semi permanen yang lebih layak.
Kegiatan kecil itu berkembang menjadi komunitas belajar bernama Rumah Penyuluhan Kreatif. Ferry tidak hanya mengajarkan huruf hijaiyah, tetapi juga abjad, calistung, serta pendidikan moral dan keagamaan bagi anak-anak maupun orang tua. Saat ini, RPK memiliki tiga program utama, yaitu kelas PAUD, kelas calistung, dan kelas sekolah paket. Kegiatan belajar berlangsung empat kali seminggu dan melibatkan banyak relawan, termasuk mahasiswa dari UIN, UI, Atma Jaya, dan Unindra. “Sekarang banyak yang ingin kolaborasi, jadi kami buat formulir Google agar jadwalnya tidak tumpang tindih,” jelasnya.
RPK juga bekerja sama dengan sejumlah lembaga, salah satunya Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) yang mendukung kegiatan pendidikan enam bulan terakhir. Berkat kerja sama tersebut, anak-anak di bawah kolong tol kini bisa belajar komputer, akuntansi dasar, dan keterampilan hidup sederhana.
Kegiatan di RPK tidak hanya untuk anak-anak. Ferry juga membuka kelas parenting bagi orang tua serta memberikan pendampingan rohani bagi masyarakat sekitar. Ia meyakini bahwa perubahan harus dimulai dari keluarga. “Saya selalu awali dengan pengajian dan pembinaan agama. Karena bagi saya, kunci kemajuan itu dua: bisa membaca dan punya pegangan iman,” tuturnya.
Dari kegiatan itu, muncul banyak kisah inspiratif. Salah satunya Seti, anak binaan Ferry yang kini kuliah di jurusan Akuntansi Universitas Pamulang. Ada pula beberapa anak yang melanjutkan pendidikan di pesantren. “Waktu SMA, Seti kami biayai penuh. Setelah lulus, dia bilang mau kuliah, dan alhamdulillah bisa kami bantu. Saya ingin mereka jadi generasi penerus di sini,” kata Ferry.
Sebagai aparatur sipil negara di Kementerian Agama, Ferry memaknai penyuluhan sebagai jembatan antara pembangunan dan nilai spiritual masyarakat. “Penyuluh itu penyambung pembangunan lewat bahasa agama. Kita hadir untuk menuntun, bukan menggurui,” tegasnya.
Ferry bukan tipe orang yang senang menampilkan kegiatannya di media sosial. Namun sejak 2020, ia mulai mengunggah aktivitas RPK di Instagram dan Facebook. Langkah kecil ini membawa dampak besar karena semakin banyak relawan, donatur, dan kampus yang mengenal dan menjangkau RPK. Kini, RPK sering menerima kunjungan sosial dari mahasiswa, komunitas, hingga lembaga. Beberapa kali kegiatan mereka juga dikunjungi pejabat kementerian.
Selain pendidikan, RPK membuka layanan pengobatan gratis setiap Senin melalui kerja sama dengan komunitas lansia yang memiliki kemampuan medis. Ada pula pembagian sembako dua minggu sekali dari komunitas sosial Bantu 1000.
Saat ditanya tentang momen paling berkesan, Ferry menuturkan kisah Alvin, anak pemulung yang kini berhasil menembus Universitas Gadjah Mada (UGM). Kisah itu menjadi penguat semangat bagi anak-anak lainnya. “Saya selalu bilang, tidak ada yang mustahil. Anak pemulung pun bisa jadi orang besar kalau mau berusaha,” katanya.
Harapan Ferry sederhana: tidak ada lagi anak Indonesia yang buta huruf. Ia percaya bahwa kunci dari semua kegiatan sukarela ini adalah konsistensi dan ketulusan. “Indonesia sudah merdeka lebih dari 80 tahun, tetapi masih banyak anak yang belum menikmati kemerdekaan itu. Semoga cerita anak-anak putus sekolah cukup sampai di generasi ini,” ujarnya.
Bagi Ferry, keberadaan RPK bukan sekadar tempat belajar, tetapi wujud kecil hadirnya negara di tengah masyarakat. “Kalau masih punya kesempatan, waktu, dan niat, jangan tunda untuk berbuat. Mungkin kita hanya mengajarkan alif, ba, ta. Tapi siapa tahu dari situ lahir seorang hafiz atau guru besar. Tidak ada yang sia-sia dari kebaikan,” pungkasnya.
Editor: Aru Lego Triono Kontributor: Mufidah Adzkia
